MENANGGAPI KASUS MONAS JANGAN EMOSI
Juni 10, 2008
dalam teknik beladiri kungfu (saya termasuk penggemar komik kungfu terutama kungfu boy) petarung yang berani adalah petarung yang mampu menjaga emosinya. klo saya lihat di komik kungfu boy, cheen me sebagai pemeran utama, mampu mengelola emosi di hadapan musuh2nya, sehingga dalam setiap petarungan selalu ada kesan yang menarik baik itu ketika menang maupun kalah.
kalau kita merasa sebagai manusia dewasa tentu bisa mengelola emosi kita untuk tidak terpancing dan memancing emosi orang lain. karena orang yang tidak mampu menjaga emosinya hanyalah anak kecil seperti yang saya ceritakan kemarin.
sebagai kaum muda intelektual seyogyanya kita percaya akan hukum. kasus monas kemarin kini sedang di selidiki oleh aparat hukum di negri kita (urusan percaya atau tidaknya akan penegakan hukum di negri ini, itu urusan anda).
saya tidak benci apa yang dilakukan oleh AKK-BB maupun FPI. yang saya benci adalah, kenapa mereka sebagai orang dewasa tidak mampu mengelola emosinya, yang pada akhirnya menimbulkan kekerasan yang sangat tidak penting.
apakah hanya gara2 kemiskinan di negri ini, banyak masyarakat indonesia sudah tidak menggunakan akal sehat dan kepala dingin lagi?…klo gitu apa bedanya sama binatang??…
kasus kekerasan di monas maupun demo mahasiswa UNAS saya harap bisa menjadi pelajaran berharga bagi bangsa ini. pelajaran untuk bisa mengendalikan emosinya agar tidak terjadi kekerasan di kemudian hari.
“apa yang menurut kalian baik, belum tentu baik di mata tuhan. dan apa yang menurut kalian buruk, belum tentu buruk di mata tuhan”. jadi, benar dan salahnya sikap seseorang itu bukan manusia sendiri yang menentukan.
Entry Filed under: ISLAM. Tag: FPI dan AKBB.


Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed